“ Kenapa memilih Jurusan Ilmu
Perpustakaan?”
Singkat memang masa putih abu, ketika
diharuskan memikirkan sekolah masa depan seperti apa yang diinginkan. Saya manusia
yang terlalu kebingungan, bingung akan segala hal. Pikirku, melanjutkan sekolah
ke jenjang perguruan tinggi saja sudah bersyukur. Terlebih, bahkan tidak ada
lebihnya bagi saya yang lahir dari keluarga yang biasa saja, yang masih kurang dari
cukup. Berteman dengan orang-orang yang berada di level high dan
mempunyai kecerdasaan di atas rata-rata otak saya, saya hanya bermodalkan keberuntungan
bersekolah disana. Berkaca pada lingkungan di sekeliling dan support dari pihak
sekolah yang sering mencetak lulusan yang unggul di bidang akademik khususnya. Dan
itu, jelas berpengaruh pada kuliah dan jurusan-jurusan yang mereka ambil untuk
masa depannya masing-masing. Semua orang berlomba-lomba, menggantungkan harapan
pada impian besar mereka itu.
Bagi orang yang biasa dan
tidak tahu passion nya seperti saya ini, tidak jelas arah dan tujuan
hidupnya, bercermin di kaca saja malu, menyedihkan itu terlihat jelas. Lautan
manusia di sekolah berbondong-bondong memperjuangkan agar bisa menjadi anak
rantau Bandung, Jakarta dan Yogyakarta. Universitas hits pun jadi tren di
sekolah dengan jurusan yang tak kalah kece nya. Hal pertama yang menjadi
pertimbangan saya untuk kuliah adalah biaya. Walaupun orang tua sangat terbuka
memberikan kebebasan terhadap keputusan- keputusan yang saya ambil nanti,
mereka akan terus mendukung. Opsi daerah kuliah incaran yang terlintas dipikiran
ku yakni antara Purwokerto dan Yogyakarta. Bisikan teman pun saya dengarkan
baik-baik, bisikan yang setidaknya memberikan saya solusi dalam masalah bingung
ini. Ya, dia menyarankan saya masuk jurusan ekonomi syariah UIN Yogyakarta, ya
masuk akal lah dia menyarankan jurusan itu. Saya berada di jurusan IPS yang
tentu belajar ekonomi dan perhitungan
akuntasi semacam itulah.
Setelah melalui
pemikiran dan pertimbangan, saya memutuskan untuk berluncur ke jurusan ekonomi
syariah di pilihan pertama SNMPTN. Dengan ketentuan dua pilihan universitas dan
tiga jurusan yang ada, saya masih kurang dua jurusan lagi. Saya mencari tahu
jurusan apa saja yang ada di UIN Yogyakarta tersebut, dan mata saya tertuju
pada perbankan syariah dan psikologi. Itu yang terlintas di pikiran saya saat
itu, belum merundingkan lagi dengan orang tua saya. Dan saat saya menanyakan
jurusan apa yang harus saya pilih untuk mengisi dua kekosongan tersebut. Ayah
saya tiba-tiba bilang “ Gimana kalau ngambil jurusan perpustakaan saja, itu
masih jarang, pasti peluang kerjanya besar”. Terdiam seketika mendengar kata perpustakaan.
Sama sekali tak pernah terbayangkan jika berada di lingkup tersebut, yang benar saja, aslinya saya jarang
sekali membaca buku. Bagaimana bisa saya berada disana. Karena ayah tahu saya
tidak ingin masuk keguruan dan sebelumnya saya memutuskan untuk mengambil
jurusan ekonomi syariah yang jelas-jelas itu bukan pendidikan, sambil
meyakinkan kembali pada saya bahwa tetap keputusan semuanya berada di tangan saya.
Entah itu mau ikut saran Ayah atau tidak. Gerak tangan saya akhirnya memilih opsi
jurusan Ilmu Perpustakaan S1, karena itu saran Ayah, mengapa tidak saya coba,
toh saya sengaja menaruh itu di pilihan kedua. Agar tidak terpilih di jurusan
tersebut. Beharap dapat diterima di jurusan ekonomi syariah. Kemudian, opsi UIN
Bandung dengan jurusan Manajemen dipilihan terakhir.
“ Setelah diterima di Jurusan Ilmu Perpustakaan, apa yang dirasakan? “
Pertanyaan menggelitik
hati, dua sisi yang berlainan dalam satu jasad. Layaknya hitam putih, siang
malam dan ini yang saya rasakan. Jika semua orang merasa bahagia dengan pilihan
yang dengan jelas tepat untuknya dan sesuai keinginannya, jujur saya iri.
Memuji diawal atas keberhasilan saya lolos SNMPTN, tapi juga menelan mentah
kata-kata obrolan menyakitkan. Tertawa disela pujian mereka, saya tahu itu. Sampai
sekarang pun, jika orang yang saya kenal menanyakan semacam ini, saya yang akan
duluan tertawa sebelum mereka. Ayah sempat menanyakan kembali apakah saya akan
tetap mengambil jurusan ini, atau ikut SBMPTN untuk memilih jurusan yang saya
inginkan. Dengan tegas saya menjawab akan tetap mengambil jurusan ini. Apapun
resikonya, karena yang ada dipikiran saya ketika itu adalah tidak mau
mempersulit diri saya sendiri dan tentunya kedua orang tua saya. Jika sudah ada
di depan mata seperti ini, mengapa tidak diambil saja. Pikirku, mungkin ini
jalan Tuhan yang lain. Berusaha meyakinkan diri saya sendiri ketika itu,
walaupun saya tahu kedua orang tua sangat senang, terlebih Ibu yang tahu bahwa
saya bersikeras untuk kuliah. Itu saja sudah membuat beliau senang. Saat-saat
itulah saya perang dengan diri saya sendiri.
Keputusan sudah mutlak,
dan akhirnya saya mengikuti semua rangkaian persyaratan dan kegiatan yang sudah
ditentukan bagi mahasiswa baru pada waktu itu. Di pikiran saya dan teman-teman
lainnya mungkin ada kesamaan mengenai jurusan ini. Sebuah pertanyaan
menggelitik hati untuk kesekian kalinya.
“Belajar apa kalo di jurusan ilmu perpus? Jaga buku di perpustakaan? Nyusun buku
di rak ?”. Resiko yang akan ditanggung, saya yakinkan, itu akan saya telan dengan lumat sampai habis.
Dan benar saja, karena mungkin mainset dari awal sudah terkonsep ilmu
perpustakaan itu seperti pertanyaan-pertanyaan yang ada dipikiran orang-orang
diluar sana. Awal perkuliahan membuat saya merasa akan salah mengambil keputusan
ini. Karena baru permulaan dengan mata kuliah umum dan pengantar awal ilmu
perpustakaan, mungkin itu baru pemanasannya. Tapi, berjalannya waktu, mata
kuliah yang berhubungan dengan perpustakaan tersebut membuat saya tidak bisa
terus disini. Terbesit dibenak saya, untuk memutuskan pindah saja. Itu hanya
keinginan di lubuk hati kecil saya, yang belum terlaksana. Apalagi dengan mata
kuliah yang berhubungan dengan keislaman, wah itu membuat saya seperti remah-remah
roti di kampus ini. Saya mencari-cari sesuatu yang membuat saya dapat
termotivasi belajar di jurusan ini.
Ya, cerita pengalaman
dosen dalam studi nya, pengalaman murid nya yang sudah bekerja, sukses dari
jurusan ini. Itu sedikit membuat level usaha mencintai jurusan ini meningkat.
Dengan perpustakaan di luar negeri sana yang sudah maju di atas negara kita,
perpustakaan negeri ini jelas jauh tertinggal. Terlepas, sekarang perpustakaan
kita juga sudah mengalami banyak perubahan signifikan untuk menuju perpustakaan
seperti di luar negeri sana yang memang ini sedang dalam proses. Tersungging
senyum bibir ini, ketika dosen bercerita pengalaman studinya di luar negeri,
mengambil jurusan Library Science ini. Setidaknya jika orang lain tidak tahu
akan hal ini, saya sendiri sekarang tahu. Orang-orang seperti kita ini lah yang
mengolah sedemikian rupa, sehingga semua buku-buku yang menjadi ilmu bagi para
pencari ilmu dapat tersalurkan sesuai dengan kebutuhan mereka. Kita berada diatas
para ilmuwan hahaha :D
Selain makin kesini
makin rumit, dan terkadang saya juga masih tidak bisa, tidak mengerti, jenuh
apalagi. Semua itu saya lalui, tapi ini bukan akhirnya, masih ada yang terus
akan saya lalui, pasti itu. Dan untuk saat ini saya hanya akan terus berusaha
dan bertahan, walaupun sampai sekarang saya tidak tertarik menjadi pustakawan
ataupun profesi yang berhubungan dengan perpustakaan. Akhir dari cerita ini,
saya hanya ingin bilang bahwa saya berharap ilmu yang saya dapat di sini, di
jurusan Ilmu Perpustakaan ini, bisa bermanfaat bagi orang banyak dalam
kehidupan sosial. Terlepas, lima tahun kedepan misalnya, saya akan menjadi apa,
saya pun tidak pernah tahu. Itu kembali lagi pada skill apa yang kita punya,
bukan IPK semata. Jadi, jangan meremehkan jurusan ini seperti hal nya “remeh”
nasi yang sering kita abaikan. Mungkin di remeh nasi itu, ada rezeki dari Tuhan
yang di selipkan. Library Science itu keren juga ternyata ! hehehe :D