Senin, 30 Mei 2016

So, What's your FOOD ?



                Kali ini, saya akan membahas tentang makanan. Makanan tradisional lebih tepatnya, makanan-makanan tradisional Indonesia ini memang patut untuk dilestarikan. Salah satunya makanan tardisional asal Semarang. Nah, jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga punya acara yang keren nih. Pada tanggal 17-18 Mei 2016, bertempat di lantai 1 perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, telah terselenggara dengan meriah pameran literasi budaya IDKS tahun 2016 ini. Bicara tentang makanan tradisional tersebut, tidak hanya dari pulau Jawa saja, tetapi berbagai daerah di Indonesia. Seperti makanan dari pulau Sulawesi, Maluku dan Bali. Dalam pameran tersebut juga dimeriahkan dengan hiburan-hiburan dari para mahasiwa ilmu perpustakaan, pemutaran film buatan mereka hingga penampilan story tell dan speech juga. Guest lecture juga tentunya menjadi agenda yang tidak kalah pentingnya, karena itu juga kita dapat menambah ilmu.
                Di hari pertama itu kita mendapatkan ilmu di Guest Lecture yang terselenggara dengan baik tentunya dilanjut dengan hiburan-hiburan acoustic music dari para mahasiswa. Nah untuk makanannya sendiri ini, kita mendapat banyak respon dari pengunjung. Ada banyak stand yang tersedia, terdiri dari 1-8 stand. Itu semua menawarkan berbagai macam makanan tradisional. Para pengunjung dapat menikmati makanan tersebut dengan mencicipinya. Setiap stand tidak hanya memberikan atau menjajakan makanan saja tapi pengunjung diberikan informasi mengenai makanan tersebut, seperti halnya dengan sejarah dan filosofinya. Disinilah peran literasai informasi, memberikan informasi mengenai makanan tersebut kepada para pengunjung, dan tentunya dengan rujukan yang jelas informasi itu didapatkan. Pada hakikatnya, pameran literasi budaya ini memberikan satu titik terang bahwa informasi itu dapat disebarluaskan ke publik dengan media apapun. Tetunya media seperti ini dirasa sangat efektif untuk menyebarluaskan informasi dengan cara yang tidak membosankan.
                Untuk stand saya sendiri, saya dengan teman sekelompok saya menyajikan makanan-makanan tradisional Jawa seperti dari Yogyakarta, Semarang dan ada juga dari daerah Bali. Dimulai dari hari peertama menyajikan makanan Paceri asal Semarang dan makanan Manuk Nom dari daerah DIY. Itu 2 menu utama di hari pertama dan kedua, ditambah dengan makanan –makanan tambahan lainnya. Serta minuman jahe panas, benar-benar makanan dan minuman khas Jawa. Untuk stand lainnya, juga menyediakan makanan dan minuman yang memang sudah jarang ditemui. Menambah point plus juga bagi stand-stand yang menghias begitu menarik sesuai tema makanan yang disajikan, seperti mengenakan kebaya, sorjan, songket, pakaian adat Bali dan semacamnya. So, anak perpustakaan punya hal sekeren ini tiap tahunnya, kalian masih menganggap kami dibawah standar kalian ? hahaha terimakasih

Minggu, 22 Mei 2016

Ini yang bikin FOCUS ...

Menggambar dan memotret merupakan dua kegiatan yang saya sukai. Untuk kali ini, saya akan bercerita, sharing sedikit lah dengan teman-teman mengenai hobi saya tersebut. Banyak anak muda di luar sana yang mungkin sudah expert di bidang seni menggambar atau bahkan memotret sekalipun. Dengan bakat dan atas dasar rasa suka akan hal itu mendorong teman-teman untuk berfikir kreatif dan menciptakan hal-hal yang baru. Saya hanya menyukai saja, tapi untuk ahli nya masih jauh dari kata ahli. Untuk kedua hobi saya ini saya hanya mengandalkan alat yang ada, tanpa  punya alat potret CLR maupun DSLR, hanya bermodalkan smartphone biasa. Dan untuk menggambarnyapun , saya hanya menggunakan pensil warna, spidol dan oil pastel. Karena saya sangat menyukai yang full colour dibanding hitam putih seperti doodle, hasil-hasil gambar ku bermain warna dan mencolok haha Bagaimana dengan kalian? teman teman pasti sudah belajar menggunakan cat air, atau semacamnya untuk melukis menggunakan kanvas, itu sangat kerenn ! ^^

( nah, ini salah satu hasil gambar jelek saya hehe )

Untuk memotret, saya juga baru belajar, belajar menggunakan smartphone itu tadi. Ternyata susah juga teman, untuk kalian yang sudah masuk komunitas photography atau semacamnya pasti sudah tau teknik dan cara untuk mengambil sudut pandang yang menarik, tidak hanya gambar yang bagus, tapi makna seperti apa yang ada pada gambar atau objek yang kita ambil tersebut. Dari pengalaman saya yang secara kebetulan bertemu dengan salah satu photographer yang sedang melakukan pemotretan di objek wisata Candi Prambanan Yogyakarta tersebut bersama dengan siswa-siswa SMA pilihan se-Indonesia yang juga sedang melakukan pemotertan tersebut, mengatakan bahwa gambar yang bagus itu adalah gambar yang dibelakangnya itu memilki sebuah cerita dan di refleksikan lewat objek yang diambil melalui kamera dan dabadikan, hingga khalayak publik menangkap makna tersirat di balik gambar atau foto tersebut. Nah, buat teman-teman yang bermodalkan smartphone saja, seperti saya. Jangan putus asa, belajar, latihan terus hehe ^^






 ( susah belajar untuk memfokuskan suatu objek )

Sabtu, 21 Mei 2016

CIAMIS Punya...


Sebagian besar orang-orang diluar sana pasti sudah mengetahui atau bahkan belum mengetahui adanya kampung naga? Yap, Kampung Naga di Tasikmalaya itu merupakan salah satu kampung yang masih mempertahankan adat, tradisi leluhur mereka. Keunikan itulah yang menarik perhatian para wisatawan yang mengunjungi kota anyaman Tasikmalaya tersebut. 
(sumber : www.google.com )

Tapi, sekarang saya tidak akan membahas tentang kampung naga yang berdomisilinya tetanggaan dengan daerah kelahiran saya Ciamis. Kampung Adat Kuta merupakan sebuah dusun adat yang masih bertahan hingga saat ini yang terletak di Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kab.Ciamis, Jawa Barat. Kampung adat ini dihuni oleh masyarakat yang masih dilandasi kearifan lokal, dengan memegang budaya pamali atau pantangan, pantangan ini untuk menjaga keseimbangan alam dan terpeliharanya tatanan hidup bermasyarakat di kampung ini. Salah satu yang paling menonjol yakni dalam hal pelestarian hutan, yaitu mempertahankan kelestarian mata air agar tidak rusak dan pohon aren untuk sumber kehidupan bagi mereka. (http://www.kitasatu.com/2016/01/tempat-wisata-di-ciamis_8.html ).

(sumber : www.google.com )
Salah satu yang saya kagumi dari Kampung Kuta ini, adalah masih mempertahankan kearifan lokal. Dimana semua kegiatannya, masyarakatnya masih mementingkan alam. Kata orang setempat di kampong Kuta itu apa-apa pamali atau banyak pantangan-pantangannya. Yang mana itu semua diyakini masyarakat sebagai hal yang harus dipatuhi. Semua pantangan yang menjadi aturan di Kampung tersebut, memberikan makna yang sangat penting untuk kelangsungan hidup dan keseimbangan alam. Untuk itu, kita sebagai manusia yang hidup di zaman modern, dapat mengambil pelajaran berharga dari semua kehidupan yang dijalani oleh para masyarakat Kampung Kuta.

(sumber : www.google.com )


Kamis, 07 April 2016

REPEAT, REPEAT, REPEAT...



PENTAS TIGA BAYANGAN
            Pada zaman modern ini, teknologi yang semakin canggih orang dapat bertukar informasi dan mendapatkan informasi dengan sangat mudah. Salah satunya pesan, pesan yang berisi informasi bagi sang penerima pesan. Penyampaian pesan tidak hanya lewat obrolan langsug, tetapi pada zaman dahulu pesan disampaikan melalui media kertas yaitu surat. Perkembangan surat menyurat dari yang pengantarnya burung merpati sampai manusia yang kita sebut pak pos pengantar surat. Ketika ada handphone surat tergeser oleh sms dan telpon, memudahkan. Nah, sekarang ini zamanya gadget, android, iphone hampir semua orang memakai alat komunikasi itu. Pesan sekarang tidak hanya lewat sms lagi, tapi lewat sosial media seperti facebook, twitter, bbm, whats app, snapchat, line, we chat, dan masih banyak lagi.
            Ternyata ada media yang mungkin orang kebanyakan tidak mengetahuinya. Mungkin ada yang tahu apa itu, tapi saya membuat tulisan ini seolah-olah kebanyakan orang tidak mengetahuinya. Ya, saya tahu sekarang, karena menonton secara langsung dan tanpa sadar saya mendapatkan pesan itu, iya informasi yang disampaikannya itu. Sebuah drama? Teater? Memang ada pesan nya ? Ada lah, cuman kamu nya aja yang kurang pek. Pesan yang sangat berharga itu saya dapatkan ketika menonton “Pentas Tiga Bayangan”. Pentas ini salah satu rangkaian pementasan dari teater eska UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Untuk kedua kali nya ini, pada tahun 2016, yang diselenggarakan pada hari Sabtu, tanggal 2 April pukul 19.00 WIB, bertempat di Teater ESKA. Bertajuk “Pentas Bayangan” dengan tiga repertoar masing-masing berjudul Jamais Vu dengan sutradara Jauhara N. Azzadine, Neosamting ( Blues Tanpa Minor Harmonik) buah tangan Muhammad Sholeh, serta Persoalan Hidup dan Beberapa Pertanyaan Payah garapan Lailul Ilham. Ketiga repertoar ini menawarkan sudut pandang tertentu dalam melihat relasi antara manusia dengan kenyataanya. Kemudian “relasi” itu mendialogkan antara gagasan pertunjukan dengan kenyataan yang telah dan sedang berlangsung dalam kehidupan manusia. Dan hasilnya saya menerima pesan tersebut.
            Naskah “ Jamais Vu” oleh Jaauhara N. Azzadine yang tampil pertama pada malam itu, membuat semua orang terdiam dengan keapikkan memerankan karakternya. Dengan adegan yang terus diulang oleh pemeran perempuan Vel dan Nos ini. Ya, dalam cerita ini Vel sampai pada kesadaran bahwa hidupnya hanya penantin belaka. Ketika semua waktu diulang terus menerus, semua akan tetap sama. Tidak mengubah apapun, semua yang dinanti hanya hal yang membosankan dan tidak memberikan hal yang tidak berarti, bahkan acuh akan hal itu. Peristiwa yang terjadi di masa kini, bahkan masa depan, tak lain adalah pengulangan di masa lalu.  Waktu itu merangkum semua peristiwa, yang menurut Vel itu, akhirnya menjadi sebuah keputusasaan dalam penantian yang abadi. Tak ada yang menarik, begitupun tak ada yang membahagiakan. Pesan yang saya tangkap dari naskah pertama ini yakni, manfaatkan waktu itu dengan sebaik-baiknya. Karena, jejak kaki kita yang sekarang adalah hasil jejak-jejak kaki yang sudah kita lewati dulu.
            Untuk penampilan kedua yakni naskah” Persoalan Hidup dan Beberapa pertanyaan Payah” oleh Lailul Ilham. Tiga tokoh yang tampil dalam naskah ini berasal dari kelas sosial yang berbeda. Mereka memperdebatkan kesiapan dan ketidaksiapan dalam menjalani hidup. Dan kesimpulan yang mereka dapat adalah bukan dari kata siap dan tidak siap yang menjadi persoalan. Akan tetapi, waktu lah yang menjadi persoalan. Bagaimana seharusnya manusia bersikap dalam hidup sebagai cerminan menghadapi waktu. Karena waktu tak pernah berhenti berlalu dan akan melibas semua yang salah dan lengah menghadapinya. Pesan yang saya tangkap dari naskah kedua ini, yakni siap tidak siap akan sesuatu, coba untuk berpikir waktu itu berjalan, kita tidak akan terus berdiri terus di kata siap dan tidak siap. Kerjakan semampu kita, sebisa kita, sikapi waktu dengan baik tentunya.
            Dan penampilan terakhir yakni naskah “Neosamting” (Blues Tanpa Minor Harmonik) oleh Muhammad Saleh. Tokoh Plus dan Min yang yang sering berbeda pendapat. Plus yang terobsesi dengan temuan-temuannya yang baru. Bertahun-tahun dedikasi hidupnya hanya demi obsesinya. Sedangkan, obsesinya itu tidak menghasilkan apa-apa, tidak memberinya apapun. Tersisa hanya obsesi-obsesinya itu, tanpa ia sadari apa yang ingin ia kejar, malah tidak merubah apapun. Hasil pun untuk itu, tidak ada. Berbeda dengn Plus, Min terus menghasilkan karya meski tidak baru. Setidaknya, Min tidak menyia-nyiakan hidupnya yang sementara. Pesan yang saya tangkap dari naskah suguhan “ Pentas Tiga Bayangan” malam itu memberikan gambaran akan dua sisi yang berbeda. Hidup itu memang pilihan, jika hidup mu di sisi yang hanya berkutat dengn hal yang menjadi obsesimu dan itu tidak menghasilkan apa-apa, menurut saya itu membuang-buang waktu. Berbeda, jika hidup mu juga berada di sisi yang satunya, yakni tetap pada jalur yang terus statis, tidak ada pencapaian baru yang ingin diraih, tapi tetap menghasilkan sesuatu yang biasanya tetap kamu hasilkan. Jika keinginan akan hal-hal yang baru, menurut pandangan saya, silahkan saja, tapi itu semua ada batasnya, jangan sampai kita terlalu terobsesi dan meninggalkan hal yang seharusnya penting untuk dilakukan. Kebiasaan yang terus dilakukan dan itu menghasilkan karya, mungkin lama-kelamaan ada hal-hal baru yang terbesit dipikiran dan saat itu mungkin kesempatan untuk menghasilkan karya baru benar-benar berhasil.
            Overall dari pementasan “ Pentas Tiga Bayangan “ ini , menurut saya keren. Dari segi pemain dan cerita yang menyiratkan makna mendalam, untuk musiknya sendiri memang saya suka dengan backsound yang live music. Untuk ketepatan waktu, memang agak melenceng sedikit, mungkin dikarenakana pengkondisian para penonton yang banyak d nada pula yang membeli tiket on the spot. Untuk hal-hal lainnya yang lebinh mendetail, saya tidak banyak berkomentar. Karena saya juga baru pertama kali melihat teater drama secara langsung, ternyata anak teater anak seni dan semacamnya itu sangat keren. Hanya saja, tempat nya yang kurang pencahayaan. Saya harap, saya dapat berkesempatan lagi menonton pagelaran, pentas seni semacam ini. Pesan lewat pementasan drama memang keren !


Kamis, 10 Maret 2016

Gadget aja mati, kalo ga dicharging baterai nya...



Charging
          Saya akan menceritakan sedikit pengalaman dalam berorganisasi ketika saya SMA saja. Karena saat ini saya menjadi mahasiswa yang pasif dalam keorganisasian. Dari sejak SMP sampai sekarang pasif itu melekat pada diri saya, tak heran jika sampai saat ini saya tidak banyak pengalaman dan teman. Namun, saat SMA saya tergerak hatinya untuk mengikuti salah satu organisasi.
          Hidayah itu muncul pada sosok organisasi dunia akhirat. Ya, kalian pasti tahu istilah rohis di sekolah dulu, nah organisasi di sekolah saya dulu dinamakan Ikatan Remaja Mesjid, tepatnya Ikatan Remaja Mesjid Al-Kautsar. Tidak ada yang istimewa dan keren pada organisasi ini, biasa saja seperti organisasi rohis sekolah lainnya. Dibungkus dengan lebel islami, tentu organisasi ini diisi dengan orang-orang alim didalamnya. Para guru dan pembimbing serta kaka-kaka alumni dan istilah guru ngaji pun sudah expert di bidang keislamannya.
Berbanding terbalik dengan saya yang masih jauh dari kata peremuan muslimah yang seharusnya tau batasan-batasan aurat yang benar dan syar’i dalam pakaiannya. Ya, hanya saja saya berkeinginan untuk merubah sedikitlah dari kebiasaan buruk menjadi baik. Itu mungkin salah satu minat saya ikut organisasi tersebut. Solve in the problem? Tentu saya dapatkan. Itu balik lagi pada masing-masing individu, kita tahu dalam berorganisasi itu ada masa-masa seleksi alam. Nah, saya yang termasuk akan terseleksi karena terkadang saya merasa sudah nyaman pada zona ini, tapi harus pergi melawan zona-zona tidak nyaman itu. Ya, rapat, liqo (ngaji+ dapat ceramah lah). Dalam perkumpulan seperti itu, hati saya tergerak dalam merenungi keadaan saya, yap keadaan dimana hamba dan Tuhannya terasa jauh. Sharing dan solusi yang tentunya bersumber pada Al-Quran dan Hadits. Saya mengakui, itu semua keren. Karena saja saya tidak pernah mengetahui semua itu, saya buta ilmu dan buta hati.
Organisasi pasti berinteraksi dong, iya berkomunikasi dengan orang-orang. Saya pasif bergerak, berorganisasi, dan pasif ngobrol saya akui itu dengan jelas. Tapi, saat berorganisai tidak berinteraksi, mending tidur aja. Ya, walaupun saya tidak aktif banget lah ya, tapi ada ngobrol nya sama yang disampig saya misalnya. Nanya kalo ga ngerti sama yang saya kenal, dan mencoba interaksi intensif bersama mentor pengajian itu, yah menyenangkan. Ya, menyenangkan jika berteman dengan orang-orang baik. Apa yang diucapkan ada manfaatnya, tidak seperti saya yang hanya berucap sia-sia.
Setelah berinteraksi sudah ada dalam poin-poin sebuah komunitas atau organisasi. Berikutnya adalah organisai pasti melakukan kegiatan. Kegiatan sesuatu yang membuat kita tidak berdiam saja, aktif tidak pasif. Alhamdulillah saya lumayan aktif awal-awal haha.. Kegiatan yang nyambung dengan organisasi saya ini adalah…… tahu kan lah ya, selain yang ngaji dan ikut dengerin tausiyah atau ceramah? Seperti kegiatan menyembelih qurban, bukber, temu alumni, maulid nabi, dan  program kerja lainnya seperti, kegiatan lomba-lomba nasyid, MTQ, kaligrafi, puisi, eadzan dll untuk tingkat MTs/SMP sederajat se-Priangan Timur. Dengan harapan dan goals menjadikan manusia yang bertaqwa.
Menyenangkan, minder, dibuat mikir, keren, semua itu didapat disini. Di oragnisasi yang jadi bahan olokan orang karena selalu dianggap alim dan soleh serta solehah, padahal anggota seperti saya saja mungkin lebih buruk dari mereka. Karena memang menilai orang dari cover dulu itu benar kebanyakan adanya seperti itu. Alhamdulillah, disini saya menemukan teman-teman yang baik soleh dan solehah. Dibalik cerita masa lalu mereka yang berbeda-beda. Asyik menjadi bagian dari keluarga yang meyakinkan kita untuk terus berusaha berbuat baik terhadap diri kita sendiri dan orang di sekitar kita.
Ibaratkan gadget atau handphone yang akan mati jika baterainya habis,  maka harus di charge. Saya juga perlu men-charging iman saya. Iman manusia naik –turun , dan media organisasi ini menyediakan pen-chargingnya. Ilmu yang didapat dari tausyiah rutin ini, bermanfaat. Saya merasakannya, karena rohani juga perlu dikasih makan. Terimakasih, sudah ikhlas men-charging iman saya.
Beberapa  dokumentasi :