PENTAS TIGA BAYANGAN
Pada zaman modern ini, teknologi yang
semakin canggih orang dapat bertukar informasi dan mendapatkan informasi dengan
sangat mudah. Salah satunya pesan, pesan yang berisi informasi bagi sang
penerima pesan. Penyampaian pesan tidak hanya lewat obrolan langsug, tetapi
pada zaman dahulu pesan disampaikan melalui media kertas yaitu surat.
Perkembangan surat menyurat dari yang pengantarnya burung merpati sampai
manusia yang kita sebut pak pos pengantar surat. Ketika ada handphone surat
tergeser oleh sms dan telpon, memudahkan. Nah, sekarang ini zamanya gadget,
android, iphone hampir semua orang memakai alat komunikasi itu. Pesan sekarang
tidak hanya lewat sms lagi, tapi lewat sosial media seperti facebook, twitter,
bbm, whats app, snapchat, line, we chat, dan masih
banyak lagi.
Ternyata ada media yang
mungkin orang kebanyakan tidak mengetahuinya. Mungkin ada yang tahu apa itu,
tapi saya membuat tulisan ini seolah-olah kebanyakan orang tidak mengetahuinya.
Ya, saya tahu sekarang, karena menonton secara langsung dan tanpa sadar saya
mendapatkan pesan itu, iya informasi yang disampaikannya itu. Sebuah drama?
Teater? Memang ada pesan nya ? Ada lah, cuman kamu nya aja yang kurang pek.
Pesan yang sangat berharga itu saya dapatkan ketika menonton “Pentas Tiga
Bayangan”. Pentas ini salah satu rangkaian pementasan dari teater eska UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta. Untuk kedua kali nya ini, pada tahun 2016, yang
diselenggarakan pada hari Sabtu, tanggal 2 April pukul 19.00 WIB, bertempat di
Teater ESKA. Bertajuk “Pentas Bayangan” dengan tiga repertoar masing-masing
berjudul Jamais Vu dengan sutradara Jauhara N. Azzadine, Neosamting ( Blues
Tanpa Minor Harmonik) buah tangan Muhammad Sholeh, serta Persoalan Hidup dan
Beberapa Pertanyaan Payah garapan Lailul Ilham. Ketiga repertoar ini menawarkan
sudut pandang tertentu dalam melihat relasi antara manusia dengan kenyataanya.
Kemudian “relasi” itu mendialogkan antara gagasan pertunjukan dengan kenyataan
yang telah dan sedang berlangsung dalam kehidupan manusia. Dan hasilnya saya
menerima pesan tersebut.
Naskah “ Jamais Vu”
oleh Jaauhara N. Azzadine yang tampil pertama pada malam itu, membuat semua
orang terdiam dengan keapikkan memerankan karakternya. Dengan adegan yang terus
diulang oleh pemeran perempuan Vel dan Nos ini. Ya, dalam cerita ini Vel sampai
pada kesadaran bahwa hidupnya hanya penantin belaka. Ketika semua waktu diulang
terus menerus, semua akan tetap sama. Tidak mengubah apapun, semua yang dinanti
hanya hal yang membosankan dan tidak memberikan hal yang tidak berarti, bahkan
acuh akan hal itu. Peristiwa yang terjadi di masa kini, bahkan masa depan, tak
lain adalah pengulangan di masa lalu.
Waktu itu merangkum semua peristiwa, yang menurut Vel itu, akhirnya
menjadi sebuah keputusasaan dalam penantian yang abadi. Tak ada yang menarik,
begitupun tak ada yang membahagiakan. Pesan yang saya tangkap dari naskah
pertama ini yakni, manfaatkan waktu itu dengan sebaik-baiknya. Karena, jejak
kaki kita yang sekarang adalah hasil jejak-jejak kaki yang sudah kita lewati
dulu.
Untuk penampilan kedua
yakni naskah” Persoalan Hidup dan Beberapa pertanyaan Payah” oleh Lailul Ilham.
Tiga tokoh yang tampil dalam naskah ini berasal dari kelas sosial yang berbeda.
Mereka memperdebatkan kesiapan dan ketidaksiapan dalam menjalani hidup. Dan
kesimpulan yang mereka dapat adalah bukan dari kata siap dan tidak siap yang
menjadi persoalan. Akan tetapi, waktu lah yang menjadi persoalan. Bagaimana
seharusnya manusia bersikap dalam hidup sebagai cerminan menghadapi waktu.
Karena waktu tak pernah berhenti berlalu dan akan melibas semua yang salah dan
lengah menghadapinya. Pesan yang saya tangkap dari naskah kedua ini, yakni siap
tidak siap akan sesuatu, coba untuk berpikir waktu itu berjalan, kita tidak
akan terus berdiri terus di kata siap dan tidak siap. Kerjakan semampu kita,
sebisa kita, sikapi waktu dengan baik tentunya.
Dan penampilan terakhir
yakni naskah “Neosamting” (Blues Tanpa Minor Harmonik) oleh Muhammad Saleh.
Tokoh Plus dan Min yang yang sering berbeda pendapat. Plus yang terobsesi
dengan temuan-temuannya yang baru. Bertahun-tahun dedikasi hidupnya hanya demi
obsesinya. Sedangkan, obsesinya itu tidak menghasilkan apa-apa, tidak
memberinya apapun. Tersisa hanya obsesi-obsesinya itu, tanpa ia sadari apa yang
ingin ia kejar, malah tidak merubah apapun. Hasil pun untuk itu, tidak ada.
Berbeda dengn Plus, Min terus menghasilkan karya meski tidak baru. Setidaknya,
Min tidak menyia-nyiakan hidupnya yang sementara. Pesan yang saya tangkap dari
naskah suguhan “ Pentas Tiga Bayangan” malam itu memberikan gambaran akan dua
sisi yang berbeda. Hidup itu memang pilihan, jika hidup mu di sisi yang hanya
berkutat dengn hal yang menjadi obsesimu dan itu tidak menghasilkan apa-apa,
menurut saya itu membuang-buang waktu. Berbeda, jika hidup mu juga berada di
sisi yang satunya, yakni tetap pada jalur yang terus statis, tidak ada
pencapaian baru yang ingin diraih, tapi tetap menghasilkan sesuatu yang
biasanya tetap kamu hasilkan. Jika keinginan akan hal-hal yang baru, menurut
pandangan saya, silahkan saja, tapi itu semua ada batasnya, jangan sampai kita
terlalu terobsesi dan meninggalkan hal yang seharusnya penting untuk dilakukan.
Kebiasaan yang terus dilakukan dan itu menghasilkan karya, mungkin lama-kelamaan
ada hal-hal baru yang terbesit dipikiran dan saat itu mungkin kesempatan untuk
menghasilkan karya baru benar-benar berhasil.
Overall dari
pementasan “ Pentas Tiga Bayangan “ ini , menurut saya keren. Dari segi pemain
dan cerita yang menyiratkan makna mendalam, untuk musiknya sendiri memang saya
suka dengan backsound yang live music. Untuk ketepatan waktu, memang agak
melenceng sedikit, mungkin dikarenakana pengkondisian para penonton yang banyak
d nada pula yang membeli tiket on the spot. Untuk hal-hal lainnya yang lebinh
mendetail, saya tidak banyak berkomentar. Karena saya juga baru pertama kali
melihat teater drama secara langsung, ternyata anak teater anak seni dan semacamnya
itu sangat keren. Hanya saja, tempat nya yang kurang pencahayaan. Saya harap,
saya dapat berkesempatan lagi menonton pagelaran, pentas seni semacam ini.
Pesan lewat pementasan drama memang keren !




Tidak ada komentar:
Posting Komentar