Kamis, 07 April 2016

REPEAT, REPEAT, REPEAT...



PENTAS TIGA BAYANGAN
            Pada zaman modern ini, teknologi yang semakin canggih orang dapat bertukar informasi dan mendapatkan informasi dengan sangat mudah. Salah satunya pesan, pesan yang berisi informasi bagi sang penerima pesan. Penyampaian pesan tidak hanya lewat obrolan langsug, tetapi pada zaman dahulu pesan disampaikan melalui media kertas yaitu surat. Perkembangan surat menyurat dari yang pengantarnya burung merpati sampai manusia yang kita sebut pak pos pengantar surat. Ketika ada handphone surat tergeser oleh sms dan telpon, memudahkan. Nah, sekarang ini zamanya gadget, android, iphone hampir semua orang memakai alat komunikasi itu. Pesan sekarang tidak hanya lewat sms lagi, tapi lewat sosial media seperti facebook, twitter, bbm, whats app, snapchat, line, we chat, dan masih banyak lagi.
            Ternyata ada media yang mungkin orang kebanyakan tidak mengetahuinya. Mungkin ada yang tahu apa itu, tapi saya membuat tulisan ini seolah-olah kebanyakan orang tidak mengetahuinya. Ya, saya tahu sekarang, karena menonton secara langsung dan tanpa sadar saya mendapatkan pesan itu, iya informasi yang disampaikannya itu. Sebuah drama? Teater? Memang ada pesan nya ? Ada lah, cuman kamu nya aja yang kurang pek. Pesan yang sangat berharga itu saya dapatkan ketika menonton “Pentas Tiga Bayangan”. Pentas ini salah satu rangkaian pementasan dari teater eska UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Untuk kedua kali nya ini, pada tahun 2016, yang diselenggarakan pada hari Sabtu, tanggal 2 April pukul 19.00 WIB, bertempat di Teater ESKA. Bertajuk “Pentas Bayangan” dengan tiga repertoar masing-masing berjudul Jamais Vu dengan sutradara Jauhara N. Azzadine, Neosamting ( Blues Tanpa Minor Harmonik) buah tangan Muhammad Sholeh, serta Persoalan Hidup dan Beberapa Pertanyaan Payah garapan Lailul Ilham. Ketiga repertoar ini menawarkan sudut pandang tertentu dalam melihat relasi antara manusia dengan kenyataanya. Kemudian “relasi” itu mendialogkan antara gagasan pertunjukan dengan kenyataan yang telah dan sedang berlangsung dalam kehidupan manusia. Dan hasilnya saya menerima pesan tersebut.
            Naskah “ Jamais Vu” oleh Jaauhara N. Azzadine yang tampil pertama pada malam itu, membuat semua orang terdiam dengan keapikkan memerankan karakternya. Dengan adegan yang terus diulang oleh pemeran perempuan Vel dan Nos ini. Ya, dalam cerita ini Vel sampai pada kesadaran bahwa hidupnya hanya penantin belaka. Ketika semua waktu diulang terus menerus, semua akan tetap sama. Tidak mengubah apapun, semua yang dinanti hanya hal yang membosankan dan tidak memberikan hal yang tidak berarti, bahkan acuh akan hal itu. Peristiwa yang terjadi di masa kini, bahkan masa depan, tak lain adalah pengulangan di masa lalu.  Waktu itu merangkum semua peristiwa, yang menurut Vel itu, akhirnya menjadi sebuah keputusasaan dalam penantian yang abadi. Tak ada yang menarik, begitupun tak ada yang membahagiakan. Pesan yang saya tangkap dari naskah pertama ini yakni, manfaatkan waktu itu dengan sebaik-baiknya. Karena, jejak kaki kita yang sekarang adalah hasil jejak-jejak kaki yang sudah kita lewati dulu.
            Untuk penampilan kedua yakni naskah” Persoalan Hidup dan Beberapa pertanyaan Payah” oleh Lailul Ilham. Tiga tokoh yang tampil dalam naskah ini berasal dari kelas sosial yang berbeda. Mereka memperdebatkan kesiapan dan ketidaksiapan dalam menjalani hidup. Dan kesimpulan yang mereka dapat adalah bukan dari kata siap dan tidak siap yang menjadi persoalan. Akan tetapi, waktu lah yang menjadi persoalan. Bagaimana seharusnya manusia bersikap dalam hidup sebagai cerminan menghadapi waktu. Karena waktu tak pernah berhenti berlalu dan akan melibas semua yang salah dan lengah menghadapinya. Pesan yang saya tangkap dari naskah kedua ini, yakni siap tidak siap akan sesuatu, coba untuk berpikir waktu itu berjalan, kita tidak akan terus berdiri terus di kata siap dan tidak siap. Kerjakan semampu kita, sebisa kita, sikapi waktu dengan baik tentunya.
            Dan penampilan terakhir yakni naskah “Neosamting” (Blues Tanpa Minor Harmonik) oleh Muhammad Saleh. Tokoh Plus dan Min yang yang sering berbeda pendapat. Plus yang terobsesi dengan temuan-temuannya yang baru. Bertahun-tahun dedikasi hidupnya hanya demi obsesinya. Sedangkan, obsesinya itu tidak menghasilkan apa-apa, tidak memberinya apapun. Tersisa hanya obsesi-obsesinya itu, tanpa ia sadari apa yang ingin ia kejar, malah tidak merubah apapun. Hasil pun untuk itu, tidak ada. Berbeda dengn Plus, Min terus menghasilkan karya meski tidak baru. Setidaknya, Min tidak menyia-nyiakan hidupnya yang sementara. Pesan yang saya tangkap dari naskah suguhan “ Pentas Tiga Bayangan” malam itu memberikan gambaran akan dua sisi yang berbeda. Hidup itu memang pilihan, jika hidup mu di sisi yang hanya berkutat dengn hal yang menjadi obsesimu dan itu tidak menghasilkan apa-apa, menurut saya itu membuang-buang waktu. Berbeda, jika hidup mu juga berada di sisi yang satunya, yakni tetap pada jalur yang terus statis, tidak ada pencapaian baru yang ingin diraih, tapi tetap menghasilkan sesuatu yang biasanya tetap kamu hasilkan. Jika keinginan akan hal-hal yang baru, menurut pandangan saya, silahkan saja, tapi itu semua ada batasnya, jangan sampai kita terlalu terobsesi dan meninggalkan hal yang seharusnya penting untuk dilakukan. Kebiasaan yang terus dilakukan dan itu menghasilkan karya, mungkin lama-kelamaan ada hal-hal baru yang terbesit dipikiran dan saat itu mungkin kesempatan untuk menghasilkan karya baru benar-benar berhasil.
            Overall dari pementasan “ Pentas Tiga Bayangan “ ini , menurut saya keren. Dari segi pemain dan cerita yang menyiratkan makna mendalam, untuk musiknya sendiri memang saya suka dengan backsound yang live music. Untuk ketepatan waktu, memang agak melenceng sedikit, mungkin dikarenakana pengkondisian para penonton yang banyak d nada pula yang membeli tiket on the spot. Untuk hal-hal lainnya yang lebinh mendetail, saya tidak banyak berkomentar. Karena saya juga baru pertama kali melihat teater drama secara langsung, ternyata anak teater anak seni dan semacamnya itu sangat keren. Hanya saja, tempat nya yang kurang pencahayaan. Saya harap, saya dapat berkesempatan lagi menonton pagelaran, pentas seni semacam ini. Pesan lewat pementasan drama memang keren !


Tidak ada komentar:

Posting Komentar